Filosofi Dibalik Makna dan Urutan Tembang Macapat

Sejarah Pizza Italia
Sejarah Pizza di Negeri Menara Pisa – Italia
Februari 19, 2020
tempat wisata di mesir
7 Rekomendasi Tempat Wisata di Mesir versi Jejak Post
Februari 20, 2020
makna tembang macapat

Filosofi Dibalik Makna dan Urutan Tembang Macapat

Tembang Macapat sebagai sebuah karya sastra tidak hanya sekedar kumpulan kata yang dinyanyikan belaka. Tembang Macapat tidak hanya menunjukan ekspresi karya seni, akan tetapi mengandung unsur filosofi dan makna yang dalam dan erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Selain konstruksinya yang harus berdasarkan guru gatra, guru wilangan dan guru lagu, tembang macapat memiliki kelebihan pada penggunaannya yang harus disesuaikan dengan kondisi dan lingkungannya.

Singkatnya, lirik nada macapat yang digubah ke dalam berbagai bentuk menceritakan sifat lahir, hidup dan mati sebagai sebuah perjalanan yang akan dilalui setiap manusia. Penekanan tersebut terletak pada sifat-sifat manusia. Tujuannya agar tembang macapat tidak sekedar menjadi iming-iming semata, akan tetapi juga dapat menjadi pepeling dan saka guru dalam perjalanan hidup manusia.

Berikut adalah artikel yang dirangkum oleh Jejak Post mengenai alur tembang macapat dan makna filosifis pada setiap tembang macapat.

  1. Mijil

Mijil dapat diartikan sebagai lahir atau kelahiran. Kelahiran seorang manusia adalah hasil oleh jiwa raga antara seorang laki=laki dan seorang perempuan. Setelah lamanya sembilan bulan berada di dalam rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi supaya si jabang bayi lahir ke bumi. Dengan tangisan yang membahana saat merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam marcapada. Bayi yang sebelumnya terlanjur hidup enak di dalam zaman dwaparayuga yang penuh dengan kedamaian.

Sementara itu, kedua orang tuanya merasa sangat bahagia setelah sembilan bulan lamanya menanti kehadirannya. Dengan menjaga sikap dan laku prihatin supaya sang ibu (rena) dan bayi (ponang) lahir dengan selamat.

  1. Maskumambang

Setelah kelahiran sang bayi hati kedua orang tua diliputi rasa bahagia. Setiap hari mereka suka melihat dengan tingkah laku bayi yang lucu dan menggemaskan. Senyum si bayi dapat membuat orang yang memandangnya merasakan riang gembira.

Setiap waktu, sang bapak melantunkan tembang sebagai pertanda hati yang senang dan jiwa yang tenang. Merasa takjub dengan memandang kehidupan baru yang sangat menantang. Akan tetapi, selalu waspada agar si ponang tidak menangis, demam hingga kejang.

Kedua orang tua sangat takut kehilangan sang bayi. Karena, buah hati layaknya emas segantang. Si ponang menjadi tumpuan dan harapan kedua orang tuanya untuk mengukir masa depan kelak. Tentu harapannya menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, nusa dan bangsa.

  1. Kinanti

Buah hati yang semula seorang bayi yang merah merekah, kemudian tumbuh berkembang menjadi anak yang selalu diharapkan kedua orangtuanya. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Supaya selalu asa tercipta, kedua orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hatinya.

Buah hati layaknya jembatan yang mampu menyambung dan menguatkan cinta kasih suami dan istri. Sehingga si buah hati senantiasa dikanthi-kanthi agar dapat menjadi manusia sejati yang selalu menjaga bumi pertiwi.

  1. Sinom

Secara bahasa Sinom memilki arti isih enom atau masih muda. Maksudnya sang buah hati yang mulai berkembang menjadi remaja adalah manusia yang muda usianya. Di mana pada masa tersebut, kedua orang tua menjadi sering gelisah. Siang dan malam, kedua orang tua selalu berdo’a dan menjaga pergaulan sang anak tidak salah arah.

Karena, walaupun badan sudah tumbuh besar, akan tetapi seorang remaja masih belum memahami arti hidup. Pengalamannya masih belum banyak, olah batinnya belum matang. Sehingga masih sering salah untuk menentukan arah dan melangkah. Maka dari itu, segala tingkah lakunya menjadi pengawasan kedua orang tuanya.

  1. Dhandanggula

Tembang Dhandanggula menggambarkan seorang remaja yang mulai beranjak dewasa. Pada masa-masa tersebut segala khayalan berubah menjadi keinginan. Seringkali mencoba-coba hal yang belum pernah dirasakannya. Meski menjadi pantangan agama, budaya dan kedua orang tua, namun tetap ingin mencobanya.

Untuk seorang remaja yang baru dewasa, sesuatu yang indah dan manis adalah dengan mengikuti  nafsu angkara murka. Bahkan berani melawan kedua orang tua. Anak yang baru dewasa tidak bisa disebut remaja, namun belum juga dewasa. Sering kali masih terpedaya akan bujukan nafsu angkara dan nikmat dunia.

Sering juga seorang remaja yang beranjak dewasa ditakuti-takuti dengan panasnya api neraka, akan tetapi tidak akan membuatnya takut. Dirinya akan merasa rugi jika belum mengecap manisnya dunia. Tidak peduli dengan keringat peluh orang tua, yang penting hatinya gembira dan nafsunya terpuaskan. Bahkan tidak sadar tingkah lakunya dapat mencelakai dirinya sendiri, orang tua dan keluarga.

Remaja yang menjelang dewasa memiliki cita-cita setinggi langit. Sebentar-sebentar minta uang dan tidak mau berhemat. Jika tersinggung sedikit dirinya langsung sengit. Jiwa mudanya masih muda, labil dan mudah tergoda api asmara. Melihat celana saja langsung menjadi bergemuruh rasa di dalam dada. Seringkali membuat kedua orang tuanya mengelus dada. Bagaimanapun, anak adalah buah hati kedua orang tua. Oleh karena itu, sebabnya orang tua tidak akan punya rasa benci dan dendam terhadap buah hatinya.

  1. Asmaradana

Asmaradana, atau asmara dahana merupakan api asmara yang membakar jiwa dan raga. Kehidupannya bersumber pada motivasi harapan dan asa asmara. Ketika seorang sedang mengalami kasmaran, akan merasakan seakan dunia adalah miliknya. Dengan membayangkan dirinya layaknya seorang pujangga atau seorang pangeran muda.

Segala kehendaknya harus dipenuhi tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya. Hidupnya akan terasa semakin hidup lantaran nyala api asmara yang berkobar di dalam dadanya. Asalkan jangan sampai terlena dan tidak sadarkan diri. Jika sampai terlena dirinya akan dikejar-kejar tanggung jawab karena hamil muda.

Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban kedua orang tua untuk mengarahkan dan membimbing buah hati agar tidak salah memilih jalan. Sebab, tidak lama lagi buah hati akan memasuki gerbang kehidupan yang baru yang lebih mengharu biru.

Seyogyanya seorang anak meniru tingkah laku dari sang guru laku. Sabar setiap waktu dan tidak pernah menggerutu. Jangan suka berpangku tangan, namun bijaklah memanfaatkan waktu yang terus berjalan. Semuanya supaya cita-cita dapat dituju. Asmaradana merupakan saat-saat penentu, apakah seorang anak akan menjadi seseorang yang bermutu atau polisi akan mengejar dan memburu.

  1. Gambuh

Tembang Gambuh atau gampang nambuh menunjukan yang bersikap angkuh. Seakan sudah menjadi yang teguh, ampuh, dan keluarganya tidak akan dapat runtuh.  Belum tentu pandai sudah berlagak pintar. Kenyataannya otaknya buyar dan matanya nanar. Seolah merasakan cita-citanya  sudah bersinar. Sehingga tidak pandai memilah mana yang benar dan mana yang salah.

Di manapun ingin diakui sebagai pejuang, meski hatinya tidak memiliki kelapangan. Padahal seorang pahlawan tidak hanya yang berani mati, akan tetapi berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri membuatnya akan terus berkelana tanpa henti. Sedikit sudah dirasakannya banyak. Sehingga tingkah lakunya  layaknya seorang pemenang.

Ilmu yang diperolehnya seolah menjadi senjata pamungkas yang tidak tertandingi. Kenyataan akan pemahamannya sebatas “kata orang” saja. Belum dapat menjalani dan menghayati. Apabila merasakan ada yang kurang, akan sakit hati dan rendah diri. Apabila tidak mampu menahan, lebih memilih lari menjauhkan dan mengasingkan diri.

Jangan sampai menjadi pemuda-pemudi yang jauh dari anugerah Yang Maha Kuasa. Maka dari itu, belajarlah dengan teliti dan berhati-hati. Jangan sampai menjadi orang yang gumunan atau mudah heran dan kaget. Apabila sudah memahami, hayatilah setiap perbuatan. Untuk menemukan diri yang sejati sebelum raga yang dibanggakan mati.

  1. Durma

Durma atau munduring atau mundurnya tata krama merupakan tembang yang mengisahkan kondisi yang penuh dengan kejahatan. Dalam lakon cerita wayang purwa dikenal banyak tokoh yang penuh dengan kejahatan. Contohnya Dursasana, Durmagati dan Duryudana.

Diciptakannya tembang durma sebagai pengingat sekaligus menggambarkan manusia yang berbuat buruk atau jahat. Manusia lebih senang cekcok, mencari menang dan benar sendiri. Tidak mau memahami perasaan orang lain. Manusia lebih cenderung menuruti hawa nafsu yang dirasakan sendiri atau nuruti rahsaning karep, meskipun hal tersebut merugikan orang lain. Nasihat kedua orang tua juga sudah tidak didengarkan lagi.

  1. Pangkur

Tembang Pangkur menggambarkan keadaan manusia yang sudah tidak muda lagi. Mulai merasakan penyesalan. Manusia mulai sering menoleh ke belakang atau mungkur. Dengan merenungkan segala perbuatannya di masa lampau. Manusia yang terlambat instrospeksi diri kadang merasa kaget atas perbuatan yang telah dilakukan. Akan tetapi, kini hanya tersisa rasa penyesalan. Mereka mulai merasa menjadi manusia renta yang hina, dihina dan tidak berguna.

Saat masa tua telah datang, terkadang manusia merana siang dan malam. Selalu berdo’a karena raga sudah tidak mampu berbuat apa-apa. Hidup enggan mati pun sungkan. Lalu, bingung dalam menentukan tindakan. Ke sana ke mari ingin mengaji, akan tetapi tidak tahu tentang jati diri. Sungguh memalukan karena seharusnya sudah menjadi guru mengaji.

Di masa tua tabungan sudah habis, sedangkan penyakit di dalam tubuh kian meradang. Menghabiskan banyak waktu hanya berbaring di atas ranjang. Hanya bisa terlentang merasakan nyawa hendak melayang. Keluarga pun enggan datang, mengingat ulahnya di masa lalu yang senang mentang-mentang

  1. Megatruh

Megatruh atau megat ruh yang memiliki arti putusnya nyawa dari raga. Atau pegat tanpa aruh-aruh yang bermakna ajal akan datang tanpa kompromi, sehingga banyak manusia yang menyesali. Akan tetapi, sudah terlambat untuk memperbaiki diri. Terlanjur tidak memahami jati diri.

Selama ini manusia hanya menyembah Tuhan dengan pamrih dalam hati. Karena takut dengan siksa api neraka dan berharap akan pahala surga. Sehingga banyak yang kaget setengah mati setelah mengerti kehidupan yang sejati. Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang sangat berarti  dalam kehidupan yang abadi. Namun, dalam kehidupan yang sejati, sesungguhnya baru dapat mengerti jika penyakit hati sangat merugikan diri.

  1. Pocung

Pocung menggambarkan orang yang telah meninggal dunia. Jenazahnya dibalut dengan kain kafan. Hal tersebut merupakan batas dari kehidupan dunia marcapada yang panas dan rusak dengan kehidupuan yang abadi dan sejati. Kematian merupakan proses awal sebuah kelahiran. Kematian merupakan puncak layaknya seorang yang sedang mengalami puncak dalam bersenggama.

Dalam filosofi jawa, pemakaman atau kuburan dihaluskan dengan bahasa pesarean. Kata pesarean dapat diartikan sebagai tempat orang-orang tidur. Hal tersebut mengacu pada anggapan bahwa orang yang mati tidak benar-benar mati. Melainkan hanya tidur atau sare karena akan dibangkitkan kembali pada masanya dan dikumpulkan dengan manusia lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *