Konsep Tuhan dalam Sedulur Papat Kalimo Pancer

lokasi bunuh diri di dunia
Seram! 7 Tempat yang Sering Dijadikan Lokasi Bunuh Diri di Dunia
Februari 22, 2020
produk unggulan pt pindad
Lima Produk Unggulan dari PT PINDAD
Februari 24, 2020
dulur papat kalimo pancer

Konsep Tuhan dalam Sedulur Papat Kalimo Pancer

Berikut Jejak Post akan membahas tentang sedulur papat kalimo pancer dalam pandangan orang jawa. Simak penjelasan berikut ini.

Prinsip Jagat Rat Pramudhita

Di antara gumelaring jagat atau adanya alam semesta, manusia senantiasa ingin mengetahui tampat dari mana dia berasal. Dalam kajian ilmu pengetahuan Jawa, keinginan tersebut dimanifestasikan dalam sebuah konsep yakni Sangkan Paraning Dumadi atau yang memiliki arti asal usul jagat raya. Orang Jawa tidak hanya memandang alam semesta sebagai sebuah wujud saja. Akan tetapi juga sesuatu yang tanpa wujud.

Dalam hal ini wujud dapat diartikan sebagai semua kasunyatan atau kenyataan hidup yang dapat diinnderawi oleh manusia. Sedangkan tanpa wujud adalah sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia. Pandangan Universal Jawa ini menunjukan bahwa manusia merupakan titah Sang Dumadi satu kesatuan yang utuh dengan jagat rat pramudhita (jaga seisinya).

Maka dari itu masyarakat Jawa sangat memperhatikan ritual khusus yang berhubungan dengan Sang Pencipta. Hal tersebut karena pada hakikatnya ritual tersebut sudah ada dalam interaksi sosial dan alam sekitar. Sehingga tidak ada batasan prinsip yang hakiki antara pekerjaan, interaksi dan do’a. Hal tersebut menunjukan bahwa penyembahan kepada sang Pencipta diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yang sudah membumi.




Konsep Sedulur Papat Kalimo Pancer

Adanya prinsip universal tersebut melahirkan istilah sedulur papat kalimo pancer dalam istilah masyarakat Jawa. Konsep sedulur papat kalimo pancer dapat diterjemahkan sebagai saudara satu hari kelahiran. Dapat diartikan bahwa mahluk apapun yang lahir atau tumbuh bertepetan dengan lahirnya seseorang dianggap sebagai saudara.

Falsafah masyarakat Jawa tentang sedulur papat kalimo pancer menegaskan manusia sebagai mahluk ciptaannya. Meskipun disebutkan bahwa manusia merupakan mahluk ciptaanNya yang paling sempurna dan mulia. Falsafah tersebut mengajarkan kepada manusia yang menjadi utusan dan pimpinan di bumi agar tidak bersifat dan bertindak angkara murka.

Singkatnya anak bekasan, thetekan, kambing, kucing, monyet, tapir, tunas, pohon pisang dan sebagainya yang kebetulan lahir atau tumbuh bersamaan dengan lahirnya seorang manusia dianggap sebagai saudara. Bahkan dahulu kala, masyarakat Jawa sering membuat dawet ketika hewan ternak atau peliharannya melahirkan. Hal tersebut dilakukan sebagai rasa syukur atas gumelaring titang Dumadi atau penciptaan mahluk oleh Sang Pencipta.

Dengan adanya anggapan adanya saudara tunggal hari kelahiran, maka seseorang akan senantiasa berhati-hati dalam bertingkah laku. Seseorang tidak akan menebang pohon secara sembarangan, karena takut di sana ada saudara tunggal hari kelahirannya. Seseorang tidak akan mudah mencemari sungai, danau dan laut. Karena takut hal tersebut akan menyakiti saudara-saudara tunggal harinya.




Akan tetapi, keluhuran falsafah masyarakat Jawa ini sering dianggap sebagai takhayul atau gugon tuhon. Bahkan tidak sedikit orang yang menganggapanya sebagai sesuatu yang sesat. Dampaknya orang mudah menjadi beringas. Orang-orang lupa akan statusnya sebagai utusan dan pemimpin di bumi. Seharusnya manusia menjadi mahluk yang bijak dan mampu memayu hayuning bawono.

Angkara murka yang telah merasuki manusia dapat menghilangkan rasa persaudaraan dengan mahluk lainnya. Manusia menjadi ahlinya perusak hutan nomor satu. Sumur, sungai, danau dan laut dipenuhi dengan racun yang dapat merusak kehidupan di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *